Di sebuah desa kecil yang asri di kaki Bukit Mempari,Pulau Bangka, hiduplah seorang gadis bernama Memora yang tinggal bersama neneknya. Mereka tinggal di sebuah
gubuk sederhana di pinggir hutan, menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan di Telaga biru yang airnya sebening kristal dan berwarna biru kehijauan. Setiap pagi,
Memora bangun lebih awal, dengan semangat melemparkan jala ke telaga, berharap mendapatkan ikan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
