Pada suatu waktu hiduplah seorang janda miskin di sebuah hutan di daerah Mentok, Bangka-Belitung. Ia tinggal di sebuah gubuk reot bersama anak laki-lakinya semata wayang nya yang bernama Dempu Awang. Sang suami telah lama meninggal karena terkena penyakit parah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, mereka menanam ubi, keladi, dan sayur-sayuran di ladang. Hasil yang mereka peroleh hanya cukup untuk dimakan sehari-hari, dan terkadang kurang. Begitulah kehidupan Dempu Awang dan ibunya setiap hari.
